.jpg)
Bidai sebagai salah satu kerajinan tangan
untuk daerah kami sebutan bidai memang sudah tidak asing lagi. awalnya bidai hanya dikenal masyarakat setempat hanya sebagai alat menjemur padi. akan tetapi seiring berkembangnya, sehingga bidai menjadi hasil kerajinan masyarakat kami untuk mencari nafkah. hasil bersih dari penjualan bidai memang tidak seberapa, tetapi setidaknya masih bisa untuk mencukupi kebutuhan keluarga dalam krisis yang melanda.
hingga sekarang bidai sudah dikenal oleh banyak orang baik dalam daerah maupun luar daerah, bahkan bidai sangat diminati oleh masyarakat negara tetangga yakni malaysia. tetapi tidak sedikit juga daerah kita yang tidak mengenal bidai bahkan tidak mengerti cara pembuatannya yang sangat sederhana namun memerlukan tenaga dan ketelatenan serta kesabaran dalam gerak parang yang terbuat dari kayu belian't, orang kami menyebutnya "bae magak".
biasanya jika ada tamu yang berkunjung didaerah kami mereka tidak segan-segan untuk membeli bidai untuk dijadikan buah tangan, apalagi untuk bidai yang memiliki corak yang menarik bisa dijadikan alas atau permaidani diruang tamu.
pembuatan bidai ini mulai dikenal bahkan menjadi kerajinan masyarakat kami berlangsung kurang lebih 5 tahun hingga sekarang. jika awal mula beredarnya pembuatan bidai masyarakat mencari rotan dan tali dihutan, dengan ini tidak perlu mengeluarkan biaya karena semuanya tersedia dihutan dan tergantung kita rajin atau tidak.
namun sekarang rotan yang tersedia dihutan khususnya didaerah sekitar kami sudah hampir habis, sehingga tidak mencukupi kebutuhan dan permintaan pelanggan serta harus mengeluarkan biaya. dengan kata lain selain harus mengeluarkan tenaga dan uang untuk mengaji orang dalam proses pembuatannya, ditambah juga untuk membeli persediaan rotan agar tidak kekurangan. setahu saya, saat ini untuk memperoleh persediaan rotan kita harus membeli dari kal-teng, itupun jauh hari sebelumnya harus dipesan dulu, jika tidak demikian, kita tidak akan kebagian rotan. hal ini membuat pemasaran rotan juga menjadi salah satu usaha yang lancar dan tidak sedikit orang yang mulai beralih untuk menampung rotan untuk dijadikan usaha sampingan selain pembuatan bidai. namun tergantung dari bagus tidaknya rotan yang dipasarkan, untuk hal ini saya tidak bisa menjelaskan karena hanya pakar rotan saja yang mengetahui rotan mana yang pantas..
hingga sekarang bidai sudah dikenal oleh banyak orang baik dalam daerah maupun luar daerah, bahkan bidai sangat diminati oleh masyarakat negara tetangga yakni malaysia. tetapi tidak sedikit juga daerah kita yang tidak mengenal bidai bahkan tidak mengerti cara pembuatannya yang sangat sederhana namun memerlukan tenaga dan ketelatenan serta kesabaran dalam gerak parang yang terbuat dari kayu belian't, orang kami menyebutnya "bae magak".
biasanya jika ada tamu yang berkunjung didaerah kami mereka tidak segan-segan untuk membeli bidai untuk dijadikan buah tangan, apalagi untuk bidai yang memiliki corak yang menarik bisa dijadikan alas atau permaidani diruang tamu.
pembuatan bidai ini mulai dikenal bahkan menjadi kerajinan masyarakat kami berlangsung kurang lebih 5 tahun hingga sekarang. jika awal mula beredarnya pembuatan bidai masyarakat mencari rotan dan tali dihutan, dengan ini tidak perlu mengeluarkan biaya karena semuanya tersedia dihutan dan tergantung kita rajin atau tidak.
namun sekarang rotan yang tersedia dihutan khususnya didaerah sekitar kami sudah hampir habis, sehingga tidak mencukupi kebutuhan dan permintaan pelanggan serta harus mengeluarkan biaya. dengan kata lain selain harus mengeluarkan tenaga dan uang untuk mengaji orang dalam proses pembuatannya, ditambah juga untuk membeli persediaan rotan agar tidak kekurangan. setahu saya, saat ini untuk memperoleh persediaan rotan kita harus membeli dari kal-teng, itupun jauh hari sebelumnya harus dipesan dulu, jika tidak demikian, kita tidak akan kebagian rotan. hal ini membuat pemasaran rotan juga menjadi salah satu usaha yang lancar dan tidak sedikit orang yang mulai beralih untuk menampung rotan untuk dijadikan usaha sampingan selain pembuatan bidai. namun tergantung dari bagus tidaknya rotan yang dipasarkan, untuk hal ini saya tidak bisa menjelaskan karena hanya pakar rotan saja yang mengetahui rotan mana yang pantas..
Dibalik musibah dan hikmah
hampir dua minggu tlah berlalu, dan pada saat itu kesehatanku sedang tidak memungkinkan untuk menikmati suasana diluar sana. menurutku hanya sakit biasa-biasa saja, apalagi dengan perubahan cuaca yang saat ini memang tidak baik, sehingga aku memutuskan untuk tidak berobat atau semacamnya dan membiarkan sakit itu sembuh dengan sendirinya.
puji Tuhan akhirnya sembuh juga. tetapi bukan masalah sakit yang menjadi permasalahanku saat itu. sekitar jam 08.00 aku ditelpon ayah dengan gerak yang malas-malasan karena takut ketahuan sakit. hp yang terus berdering aku biarkan sejenak, namun kerena hp tetap saja berdering, akhirnya kuangkat. kemungkinan ada hal yang penting pikirku lagi!! belum sempat aku mengatakan halo.. ayahku langsung memulai dengan mengatakan " ada berita buruk mid" dilanjutkan dengan nada yang terdengar rendah, "gudang kita dibongkar orang dan semua bidai dibawa kabur".
mendengar kata ayah aku hampir tidak berbicara sepatah katapun, yang ada dalam pikiranku hanya bayangan wajah orang tuaku dan keluarga dirumah. terutama wajah ibu, pasti ibu sedih sekali. apa yang harus aku lakukukan agar ibu bisa tenang dan mau dari mana aku harus memulai menanyakan berita itu kepada ibu. pertanyaan itu terus saja mengangguku, sampai-sampai aku tidak lagi mendengarkan kata ayah sehigga ayah mematikan telpon karena saat itu ayah ada urusan dipontianak. aku langsung menghubungi ibu tetapi hpnya tidak aktif. semakin kacaulah pikiranku dan orang yang bisa membuat aku tenang hanya abangku, tapi aku tidak mau terus-terusan mengadu setiap hal pada abang, apalagi abang sudah terlalu sibuk dengan perkerjaannya. namun ibu tetap saja tidak bisa dihubungi, sehingga aku memutuskan untuk memberi tahu abang masalah ini. yang beberapa saat sebelumnya rada jengkel dengan sikapku karena tidak mau terus-terang akan masalahku. ya meskipun abang jauh, setidaknya hanya abang yang bisa membuat aku tenang dan semangat lagi.
aku harus kuat diantara orang tuaku, karena segala sesuatu pasti ada jalan keluarnya, asal saja kita tidak pernah putus asa dalam mencari yang terbaik dan mengambil hikmah darinya. hanya saja, aku tidak habis pikir musibah silih berganti menimpa keluarga kami.
namun hal yang aku garis bawahi, "dalam setiap kejadian yang kami alami, meskipun sering kali terjadi jatuh bangun dalam usaha orang tuaku tidak pernah lelah untuk memulai usaha lagi yang hingga saat ini". tapi disaat semuanya mulai berkembang malah terjadi lagi musibah yang sangat tidak terbayangkan oleh kami, tetapi kami masih bersyukur karena waktu itu barang-barang tidak semuanya tersimpan didalam gudang sehingga masih ada yang tersisa dirumah, sebab ada terang dibalik kegelapan sana.
puji Tuhan akhirnya sembuh juga. tetapi bukan masalah sakit yang menjadi permasalahanku saat itu. sekitar jam 08.00 aku ditelpon ayah dengan gerak yang malas-malasan karena takut ketahuan sakit. hp yang terus berdering aku biarkan sejenak, namun kerena hp tetap saja berdering, akhirnya kuangkat. kemungkinan ada hal yang penting pikirku lagi!! belum sempat aku mengatakan halo.. ayahku langsung memulai dengan mengatakan " ada berita buruk mid" dilanjutkan dengan nada yang terdengar rendah, "gudang kita dibongkar orang dan semua bidai dibawa kabur".
mendengar kata ayah aku hampir tidak berbicara sepatah katapun, yang ada dalam pikiranku hanya bayangan wajah orang tuaku dan keluarga dirumah. terutama wajah ibu, pasti ibu sedih sekali. apa yang harus aku lakukukan agar ibu bisa tenang dan mau dari mana aku harus memulai menanyakan berita itu kepada ibu. pertanyaan itu terus saja mengangguku, sampai-sampai aku tidak lagi mendengarkan kata ayah sehigga ayah mematikan telpon karena saat itu ayah ada urusan dipontianak. aku langsung menghubungi ibu tetapi hpnya tidak aktif. semakin kacaulah pikiranku dan orang yang bisa membuat aku tenang hanya abangku, tapi aku tidak mau terus-terusan mengadu setiap hal pada abang, apalagi abang sudah terlalu sibuk dengan perkerjaannya. namun ibu tetap saja tidak bisa dihubungi, sehingga aku memutuskan untuk memberi tahu abang masalah ini. yang beberapa saat sebelumnya rada jengkel dengan sikapku karena tidak mau terus-terang akan masalahku. ya meskipun abang jauh, setidaknya hanya abang yang bisa membuat aku tenang dan semangat lagi.
aku harus kuat diantara orang tuaku, karena segala sesuatu pasti ada jalan keluarnya, asal saja kita tidak pernah putus asa dalam mencari yang terbaik dan mengambil hikmah darinya. hanya saja, aku tidak habis pikir musibah silih berganti menimpa keluarga kami.
namun hal yang aku garis bawahi, "dalam setiap kejadian yang kami alami, meskipun sering kali terjadi jatuh bangun dalam usaha orang tuaku tidak pernah lelah untuk memulai usaha lagi yang hingga saat ini". tapi disaat semuanya mulai berkembang malah terjadi lagi musibah yang sangat tidak terbayangkan oleh kami, tetapi kami masih bersyukur karena waktu itu barang-barang tidak semuanya tersimpan didalam gudang sehingga masih ada yang tersisa dirumah, sebab ada terang dibalik kegelapan sana.



