Selasa, 28 Juli 2009

HIDUP TAK SEINDAH YANG terBAYANGKAN


Sabtu 6 juni 2009, dalam terik sang Surya saya dan rombongan mahasiswa/mahasiswi Sanata Dharma yang beranggotakan 9 orang akan berangkat menuju panti Asuhan putra santa maria Boro. Tempat yang sebelumnya tidak ada dalam bayangan saya sama sekali, tetapi mulai saat ini tempat itu akan menjadi bagian dalam keseharian saya hingga 23 juni mendatang. Panasnya siang ini tidak mengurangi semangat saya dan teman-teman untuk berangkat. masing-masing membawa barang-barang perlengkapan yang diperlukan selama kurang lebih 17 hari. Tepat jam 13.57 kami tiba di Panti Asuhan Putra Santa Maria Boro. kedatangan saya dan teman-teman disambut ramah oleh keluarga besar Panti Asuhan dan karyawan, salah satunya adalah pak Yono. Beliau dulunya juga bagian dari panti ini, yang sekarang mengabdi diPanti sebagai karyawan.

Sungguh pengalaman dan pelajaran yang tidak dapat saya lupakan dalam hidup saya. Selama berada ditempat ini tepatnya Panti Asuhan Putra Santa Maria Boro. Disini saya melihat dan merasakan bagaimana kehidupan yang dialami oleh anak-anak panti. anak-anak yang harusnya masih dalam dekapan orang tua dan juga memperoleh kasih sayang selayaknya dari orang tua beserta keluarga mereka. Tetapi yang saya lihat disini sangat bertolak belakang sekali. Bayangkan saja anak yang masih TK dan SD sudah bisa berdikari sendiri. Mereka harus makan sendiri tanpa harus ditemani orang tua, mencuci piring dan pakaian serta tidur dan belajar tanpa bimbingan kedua orang tuanya. dihari pertama saya dan teman-teman berada ditempat ini, ketika akan makan malam bersama mereka. saya tidak bisa menahan kesedihan melihat mereka membuka makan dengan doa dan makan dengan lahap sekali, padahal bagi saya makan malam ini sangat sederhana jika dibandingkan dengan apa yang saya makan diluar sana. terlintas dalam benak saya, adik-adik saya yang masih seusia dengan mereka seandainya adik saya berkerja seperti mereka. Tetapi dalam hati saya sangat bersyukur sekali karena masih mempunyai orang tua dan keluarga yang peduli dengan saya, meskipun kami hidup dalam serba kesederhanaan. Saya rasa inilah suatu pelajaran berharga bagi saya dan juga teman-teman agar lebih menghargai hidup dan mensyukurinya. Bersama mereka saya akan belajar bagaimana menikmati segala sesuatu yang saya miliki saat ini. Selama bersama dengan mereka, Suatu kebahagiaan terbesar ketika saya melihat senyum dan tawa yang menghiasi hari-hari saya dan teman-teman, sehingga dalam waktu yang singkat saya dapat akrab dengan mereka dan bersama mereka saya merasa bisa mengurangi kerinduan pada adik-adik saya dirumah.

Di Panti Asuhan ini saya belajar hidup yang lebih sederhana lagi, saya menjadi lebih sabar dalam menghadapi kehidupan nyata. Apalagi disini saya dituntut untuk menjadi orang yang bisa mengurus anak-anak yang membutuhkan bimbingan baik dalam belajar maupun dalam kesehariannya. Sekalipun selama dalam pengabdian saya dan teman-teman sering terjadi perlisihan pendapat yang kadang membuat kami tidak sejalan. Tetapi dengan adanya perselisihan tersebut kita dapat belajar agar bisa memahami orang lain dan lebih menghargai keputusan bersama dalam kelompok.

Harapan saya semoga kebersamaan yang sempat terjalin, baik dengan pengurus Panti Asuhan Putra Santa Maria Boro, juga dengan anak-anak Panti Asuhan yang sempat menjadi bagian dalam hidup kami serta kebersamaan antara kami anggota pengabdian yang telah mengalami suka-duka selama menjalankan tugas kami di Panti Asuhan Putra Santa Maria Boro tetap berlangsung baik

Teman-temanku Sukses selalu buat kita semua, semoga apa yang kita peroleh selama pengabdian dapat kita praktekkan dan kita kembangkan dalam hidup sehari-hari.

Ini adalah lagu yang menjadi ungkapan hati mereka dan bagi saya ianya sangat menyentuh hati. Apalagi ketika mereka melantunkannya saat akan berpisah dengan kami.

Balada Anak Panti

Coba dengar dan coba renungkan

Suara kecil dari panti asuhan

Bocah-bocah derita yang terlahir merana

Bahkan tak tahu siapa ayah bunda


Hanya satu yang didambakannya

Kasih sayang dari ayah dan bunda

Dalam canda dan tawa ada segumpal cinta

Bahkan senyum berganti tangisan

Reff:

Ibu tiada

Ayah tak punya

Hanya air mata yang ada

Datang-datanglah ayah dan bunda

Kami rindu belai kasih sayang













































Tidak ada komentar: